Pendakian Mahameru I: Sebuah Perjalanan, Batas Kemampuan, dan Arti Pulang
Puncak Mahameru adalah titik tertinggi di Pulau Jawa. Sudah tidak terhitung berapa banyak pendaki yang bermimpi untuk berdiri di atasnya. Meski harus melewati medan yang cukup berat—bahkan tak sedikit yang gugur dalam upayanya—daya tarik Mahameru tak pernah pudar.
Bagi umat Hindu, khususnya masyarakat Bali, Mahameru juga merupakan tempat yang sangat disucikan. Mereka rela datang jauh-jauh dari Pulau Dewata untuk mengambil air suci di sini. Terdapat dua sumber air yang mereka sucikan. Pertama adalah Ranu Kumbolo, sebuah danau indah yang berada di ketinggian 2.400 mdpl. Selain menjadi tempat favorit untuk berkemah, danau ini merupakan sumber air utama bagi para pendaki. Sumber air kedua adalah Sumbermanik yang terletak sekitar 1 km di sebelah barat Pos Kalimati—sumber air terakhir sebelum melakukan summit attack.
Pendakian ke Mahameru sendiri sudah berlangsung sejak zaman kolonial. Pendaki pertama yang tercatat berhasil mencapai puncaknya adalah Clignet (1838), seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda yang mendaki dari arah barat daya melalui Widodaren. Selanjutnya ada Junghuhn (1845), seorang ahli botani Belanda yang menempuh rute utara melewati Gunung Ayek-Ayek, Gunung Inder-Inder, dan Kepolo. Pada tahun 1911, Van Gogh dan Heim mendaki lewat lereng utara. Setelah tahun 1945, rute umum yang digunakan pendaki hingga saat ini adalah melalui jalur utara via Ranu Pani dan Ranu Kumbolo.
Dari sinilah kisah pendakian pertamaku dimulai.
31 Desember 2012 – Perjalanan Dimulai
Rencana awal kami adalah mulai mendaki pada 31 Desember 2012 agar bisa menyambut tahun baru 2013 di Puncak Mahameru. Sayangnya, tiket kereta api untuk keberangkatan tanggal 29 dan 30 Desember sudah habis terjual. Akhirnya, kami baru bisa berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada Selasa, 31 Desember 2012.
Rombongan kami terbagi menjadi dua kloter karena dua orang teman tidak mendapatkan tiket kereta yang sama. Kami berangkat lebih dulu menggunakan Kereta Matarmaja, sedangkan dua teman lainnya menyusul tiga jam kemudian menggunakan Kereta Majapahit. Meski beda waktu berangkat, selisih kedatangan kami di Stasiun Malang hanya sekitar satu jam.
Atmosfer pendakian sudah sangat terasa di dalam kereta. Hampir sebagian besar penumpang adalah pendaki—mungkin fenomena ini terjadi karena pengaruh meledaknya film 5 cm. Perjalanan selama 17 jam terasa cukup membosankan. Kami mengusir kejenuhan dengan ngobrol, berfoto, dan sesekali turun ke peron saat kereta berhenti agak lama di stasiun transit. Meski berada di dalam kereta seharian, kami tetap mengusahakan untuk beribadah di sela-sela perjalanan.
Pagi harinya, kereta memasuki wilayah Jawa Timur. Kami sering berdiri di dekat pintu kereta untuk menikmati pemandangan alam yang membentang—meski sebenarnya tindakan ini dilarang, rasa penasaran kami mengalahkan rasa takut.
Sekitar pukul 08.00 WIB, kami tiba di Stasiun Malang. Satu jam kemudian, dua teman kami yang naik Kereta Majapahit pun sampai. Tim kami yang berjumlah tujuh orang kini resmi berkumpul.
Tim ini kami beri nama Ekspedisi Pendakian Mahameru I, yang terdiri dari:
Adi Indra Purnama (Saya): Ketua kelompok (yang memakai ikat kepala/syal oranye).
Aria Warta (Aroy): Pendaki paling berpengalaman yang membawa keril terbesar.
Eko Mulyana: Baru pernah mendaki ke Papandayan dan Semeru.
Mpo May (Maymunah): Pendaki pemula.
Iin Maena: Pendaki pemula.
Hidayanti Rohmah (Anty): Pendaki pemula.
Ipeh: Anggota termuda (masih kelas 3 SMP) dan baru pertama kali mendaki gunung.
Meski mayoritas dari kami adalah pemula, tekad kami sudah bulat untuk bisa berdiri di puncak bersama-sama.
Menuju Ranu Pani
Dari Stasiun Malang, kami menyewa angkot menuju Pasar Tumpang seharga Rp125.000 setelah proses tawar-menawar yang lumayan alot. Di Tumpang, kami diantar ke rumah Pak Rus, sosok yang sangat familier di kalangan pendaki Semeru. Beliau menyewakan truk sayur untuk mengangkut pendaki menuju Ranu Pani.
Sambil menunggu truk berangkat, kami membersihkan diri dan membeli logistik di pasar. Pak Rus dan putrinya, Mbak Nur, menyambut kami dengan sangat ramah. Rumah mereka sering dijadikan tempat singgah gratis bagi para pendaki. Di sana, kami sempat mencicipi mie ayam seharga Rp4.000 yang rasanya luar biasa nikmat untuk harga semurah itu.
Perjalanan dari Tumpang menuju Ranu Pani menggunakan truk sayur menjadi pengalaman yang sangat seru. Kami diangkut di bak belakang layaknya hasil bumi. Melewati pedesaan, hampir di setiap pekarangan rumah warga tumbuh pohon-pohon apel yang lebat.
Namun, ketika memasuki jalanan perbukitan yang sempit, kemacetan parah terjadi selama hampir dua jam. Hujan gerimis mulai turun disertai kabut tebal, ditambah banyak kendaraan yang saling menyerobot di jalur sempit yang diapit jurang sedalam ratusan meter. Beruntung, setelah melewati persimpangan Bromo–Semeru, perjalanan kembali lancar.
1 Januari 2013 – Langkah Pertama di Jalur Pendakian
Sekitar pukul 14.00 WIB, kami tiba di Ranu Pani. Kami beristirahat sejenak di masjid dekat gapura pendakian untuk menjamak salat Zuhur dan Asar. Setelah mengurus administrasi SIMAKSI di pos pendaftaran, kami berkumpul untuk berdoa bersama. Suara gerimis dan kabut tipis sore itu menjadi latar dari langkah awal pendakian kami.
Baru berjalan sekitar 30 menit dari pos pendaftaran, hujan turun kian deras. Teman-teman mulai mengenakan jas hujan. Sementara saya—karena tidak membawa jas hujan dan sudah terbiasa basah-basahan saat trekking—memilih terus berjalan menembus hujan. Medannya langsung terasa berat, terutama bagi anggota tim perempuan yang baru pertama kali mendaki.
Menjelang malam, kami tiba di Pos 1. Kondisi sudah gelap gulita dan suhu udara mulai merosot tajam. Perut kami yang belum terisi sejak pagi memaksa kami untuk berhenti beristirahat dan makan agar tidak ada yang tumbang.
Angin malam yang berembus kian kencang membawa ancaman hipotermia. Kami segera merapikan barisan untuk memulai perjalanan malam (night trekking). Formasi diatur ketat: saya berjalan di paling depan sebagai penunjuk jalan, Aroy di posisi paling belakang (sweeper), sementara teman-teman perempuan berada di tengah.
Jalur dari Pos 1 menuju Pos 2 sangat licin dan gelap. Beban Mpo May yang mulai kelelahan akhirnya kami bagi bertiga secara bergantian. Teriakan instruksi saling menyahut sepanjang jalan: "Awas kayu! Awas lubang! Awas licin! Awas jurang di kiri!" Komunikasi ini wajib dijaga agar anggota di belakang tidak tersandung atau terpeleset.
Sekitar pukul 21.00 WIB, kami sampai di Pos 2. Shelter sudah penuh oleh pendaki lain, sehingga kami hanya bisa duduk beristirahat di tepi jalur sambil menyapa hangat sesama pendaki.
Saat melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, kami berpapasan dengan rombongan pendaki yang sedang turun. Salah satu dari mereka memberi peringatan, "Mas, jalur setelah Pos 3 sangat licin, tanjakannya berat. Saya saja jatuh berkali-kali. Mending ngecamp dulu saja."
Peringatan itu benar adanya. Anty yang berjalan di belakang saya mulai mengalami kram otot di paha. Wajahnya pucat dan tubuhnya kedinginan. Saya membantunya memijat kaki dan membawakan tasnya. Saat tiba di Pos 3, kami dihadapkan pada tanjakan curam setinggi 50 meter yang sangat licin akibat guyuran hujan.
Saya dan Aroy mencoba memanjat lebih dulu untuk memasang tali bantu, namun panjang tali kami tidak mencukupi. Melihat kondisi fisik tim yang sudah sangat lelah, ditambah medan yang berbahaya, saya mengambil keputusan sebagai ketua: kami berhenti dan mendirikan tenda di Pos 3.
Malam itu, kami harus membedah lahan darurat di dekat balok kayu besar. Hanya saya dan Aroy yang masih memiliki sisa tenaga untuk mendirikan dua tenda di bawah guyuran hujan dan angin dingin. Malam itu terasa begitu mencekam. Di tengah istirahat, ada rombongan pendaki yang mengevakuasi rekannya akibat hipotermia. Kejadain tersebut menjadi pengingat betapa ganasnya cuaca Semeru saat itu.
2 Januari 2013 – Surga bernama Ranu Kumbolo
Pagi harinya, kami baru mengetahui bahwa Eko sempat melihat penampakan misterius saat mendirikan tenda semalam. Sementara Ipeh, pendaki termuda kami, sempat menangis karena kaget dengan suhu dingin yang ekstrem.
Kami melanjutkan perjalanan menembus tanjakan Pos 3 yang kini sudah diberi undakan darurat oleh tim SAR dari evakuasi semalam. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam menembus kabut, di Pos 4 pemandangan mendadak terbuka lebar.
Di bawah sana, terhampar danau Ranu Kumbolo yang megah dan anggun. Rasa lelah kami seketika menguap. Kami tiba di Pos 5 (Ranu Kumbolo) dan memutuskan untuk berkemah seharian di sana guna memulihkan stamina serta mengeringkan pakaian yang basah.
Malam di Oro-Oro Ombo hingga Kalimati
Malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB, kami berencana melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Namun, Mpo May dan Ipeh memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian karena fisik yang tidak memungkinkan. Mereka memilih menunggu di kamp Ranu Kumbolo.
Tinggallah kami berlima: Saya, Aroy, Eko, Anty, dan Iin.
Kami berjalan menembus kegelapan menaiki Tanjakan Cinta, lalu menuruni sabana luas Oro-Oro Ombo. Memasuki kawasan Cemoro Kandang, vegetasi berubah menjadi hutan lebat berpepohonan besar. Suasana terasa sangat magis dan mistis. (Belakangan setelah turun, Iin bercerita bahwa ia sempat melihat sosok putih terbang di atas kepala saya saat saya sedang buang air di semak-semak Cemoro Kandang).
Hujan abu vulkanik tipis sempat turun sebelum kami mencapai Pos Jambangan. Kami segera mengenakan buff untuk melindungi pernapasan. Kaki Anty kembali bermasalah, namun setelah dipijat sebentar, ia tetap memaksakan diri melangkah hingga akhirnya kami tiba di Kalimati—sebuah padang vegetasi luas di kaki Mahameru.
Tersesat dan Jalur Tengkorak Arcopodo
Di Kalimati, kondisi sangat gelap dan sepi. Kami kehilangan arah jalur menuju puncak. Aroy mencoba mencari jalan di dekat sekumpulan tenda kosong, namun jalur yang kami ikuti semakin lama semakin tertutup semak belukar.
Kami tersesat selama hampir satu jam di tengah kegelapan malam. Anty yang panik memegang tangan saya dengan sangat erat. Menyadari jalur di depan terputus jurang, saya mengambil keputusan cepat: kembali ke titik awal di Pos Kalimati.
Setelah melakukan penyisiran ulang, akhirnya saya menemukan patokan jalur yang benar di sisi kiri arena Kalimati. Kami menaikkan mental dan melanjutkan tanyakan menuju Pos Arcopodo.
Jalur menuju Arcopodo sangat berbahaya akibat longsoran tanah. Bangunan pos yang asli bahkan sudah tidak ada lagi. Kami tiba di Arcopodo sekitar pukul 04.00 WIB. Di sana, kami beristirahat sejenak untuk makan dan salat Subuh. Saat buang air, saya sempat kaget karena mendapati pendarahan. Namun, kejadian itu saya rahasiakan agar tidak merusak fokus dan mental teman-teman.
Batas Kemampuan di Cemoro Tunggal
Melewati Pos Cemoro Tunggal, kami akhirnya berhadapan langsung dengan vegetasi terakhir: trek pasir Mahameru yang legendaris.
Medan pasir dan batuan curam ini sangat menyiksa. Prinsip "naik tiga langkah, merosot dua langkah" benar-benar menguras sisa tenaga kami yang belum tidur sejak semalam. Ditambah lagi, hujan mulai turun membasahi trek pasir.
Di tengah perjuangan, kami berpapasan dengan pendaki yang sedang turun. Mereka memberi tahu bahwa butuh waktu sekitar 5 hingga 6 jam lagi untuk bisa mencapai puncak dari titik tersebut.
Saya melihat jam tangan: waktu sudah menunjukkan hampir pukul 08.00 pagi.
Jika kami memaksakan diri terus menanjak, kami baru akan tiba di puncak di atas pukul 10.00 WIB—batas waktu berbahaya di mana gas beracun (vedor) dari kawah Jonggring Saloko biasanya berembus tertiup angin ke arah jalur pendakian. Saya teringat tragedi yang menimpa Soe Hok Gie dan Idhan Lubis di puncak ini.
Melihat kondisi fisik tim yang sudah berada di titik nadir dan potensi bahaya gas beracun, saya mengambil keputusan tersulit: Pendakian dihentikan. Kami tidak melanjutkan ke Puncak Mahameru.
Rasa kecewa tentu ada. Namun saya menegaskan kepada tim: Puncak bukanlah tujuan utama. Tujuan akhir dari sebuah pendakian adalah kembali ke rumah dengan selamat.
Perjalanan Pulang
Kami berbalik arah menuju Ranu Kumbolo untuk menjemput Mpo May dan Ipeh. Perjalanan turun terasa lebih cepat. Sesampainya di Ranu Kumbolo, hujan deras menyambut kami. Mpo May memasakkan kami bubur hangat dari nasi yang gagal matang—makanan paling nikmat yang kami rasakan setelah perjuangan panjang di batas kemampuan fisik.
Sore harinya, kami melakukan packing terakhir dan berjalan turun menuju Ranu Pani selama 5 jam perjalanan malam. Kami tiba di Ranu Pani menjelang tengah malam dan menumpang tidur di masjid desa.
Pagi harinya, sebuah kejadian unik (dan sedikit membingungkan) terjadi. Sebelum Subuh, saya melihat empat teman perempuan tidur bersama di dalam masjid. Namun saat saya keluar hendak mengambil wudhu, saya malah berpapasan dengan Mpo May yang berjalan dari arah Warung Langit.
"Mpo May dari mana?" tanya saya heran. "Dari Warung Langit, kan semalam gue tidur di sana sama Si Embah," jawabnya santai. "Lah, bukannya semalam Mpo tidur di masjid bareng anak-anak?" "Kagak," sahut Mpo May.
Saya yang bingung langsung mengecek ke dalam masjid. Benar saja, di sana hanya ada tiga teman perempuan yang sedang tertidur. Padahal beberapa saat sebelumnya, saya sangat yakin melihat ada empat orang di sana.
Terlepas dari berbagai misteri dan kegagalan kami berdiri di titik tertinggi Jawa, Ekspedisi Mahameru I telah memberikan pelajaran berharga tentang arti kebersamaan, pentingnya menahan ego, dan menghormati keputusan alam. Mahameru akan selalu ada di sana, menunggu kami kembali di lain waktu.
No comments:
Post a Comment