Tuesday, 9 November 2010

gunung ceremai


Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah dinamakan "Ciremai") secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.

Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.

Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan 'ci-' untuk penamaan tempat.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Vulkanologi dan geologi

G. Careme di awal abad ke-20. Foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam.

Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.

Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).

Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.

[sunting] Jalur pendakian

Puncak gunung Ceremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam "Akar (Aktivitas Anak Rimba)" yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai.

[sunting] Keanekaragaman hayati

[sunting] Vegetasi

Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, sebagian besar hutan-hutan di bawah ketinggian … m dpl. dikelola dalam bentuk wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.

Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.

Lebih jauh, berdasarkan keadaan iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di wilayah Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian selatan gunung) termasuk beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.

Secara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (di bagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), dan Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas akan melalui lahan-lahan pemukiman, ladang dan kebun milik penduduk, hutan tanaman pinus bercampur dengan ladang garapan dalam wilayah hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dibedakan lagi atas tiga tipe yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di sekitar kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diduga telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang cukup jelas.

Wednesday, 4 August 2010

gunung selamet

Gunung Slamet merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Slamet mempunyai ketinggian setinggi 3,432 meter. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.

Di kaki gunung ini terdapat sebuah kawasan wisata bernama Baturraden atau Batur Raden. Kawasan wisata ini biasa dicapai orang dari kota Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas.

Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki, baik dari wilayah setempat maupun wilayah lainnya. Gunung ini mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Slamet terletak di perbatasan Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Brebes. Dengan posisi geografis 7°14,30' LS dan 109°12,30' BT serta ketinggian 3432m dpl, membuatnya merupakan gunung berapi yang tertinggi di daerah Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota Purwokerto dan di sebelah barat kota Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas.

Nama Gunung

Dalam buku yang berjudul "Three Old Sundanese Poems", terbitan KITLV Leiden tahun 2006, J. Noorduyn menyebutkan bahwa nama gunung Slamet adalah relatif baru yaitu saat masuknya Islam ke Jawa. Dengan merujuk kepada naskah kuno Sunda Bujangga Manik, J Noorduyn menuliskan bahwa nama lama dari gunung ini adalah Gunung Agung.

Jalur pendakian

Jalur pendakian standar adalah dari Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden.

Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air, walaupun ada itu juga merupakan genangan air. Kepada pendaki sangat disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat. Tetapi Jika anda melewati jalur bambangan, mungkin masalah air tidak terlalu sulit. Memang para pendaki harus banyak membawa air dari bawah, tetapi sesampainya di pos v atau tepatnya di pos samhyang rangkah akan terdapat sungai kecil yang letaknya tepat berada di bawah pos v.


Prakata

Menurut ceritane wong tua, Gunung Slamet pancen mandan sejen/beda karo gunung-gunung liyane ning tlatah Jawa, Gunung Slamet pancen dudu gunung sing biasa didaki mung kanggo tujuan wisata/rekreasi, hobi utawa mung sekedar pengin naklukaken. Pendakian ming puncak Gunung Slamet biasane kanggo tujuan-tujuan khusus umpamane merga ana alesan spiritual, mulane pendaki-pendaki kudu nglengkapi syarat-syarate ndisit.

Syarat & Pantangan

Pendaki kudu nggawa kembang, Kemenyan, juga kudu ana Juru Kunci sing njujugna. Kadang pancen ana pendaki sing ora nggawa syarat-syarat kuwe ningen asal tingkaeh ora kebangeten, dheweke bisa slamet paling-paling pendaki kuwe ngalami utawa ndeleng kedaden-kedaden sing mandan aneh, ning ora mbahayani jiwane.

Pantangan utama sing kudu dieling-eling aja nganti dilanggar ialah cawaran utawa aja ngomong sembarangan.

Juru Kunci

Ana papat wong sing dipercaya ning sekitar kawasan lereng gunung Slamet. sing pertama Warsito sekang desa Sirameng sing ngewarisi sekang buyute: Nini Manten Sarak, juru kunci wadon ning jaman Belanda. Nini Manten Sarak mau keturunan pertama juru kunci sekang desa Siremeng.

Juru kunci keloro Sumedi, keturunan Mbah Naprawi, juru kunci sekang Bambangan.
Ketelu, Warjono, sekang Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Terakhir jenenge Karsad sekang Dukuh Liwung, Guci, Tegal.

Para pendaki sing lewat salah satu dari keempat juru kunci mau bisa dipastikna bakal aman. Soale munggah Gunung Slamet beda karo munggah gunung-gunung liyane. Aturanne para pendaki kudu diter neng juru kunci. Mergane juru kunci mau wong-wong sing terpilih lan mereka kudu nglengkapi satu syarat sing ora bisa dibantah, yakuwe kudu wong sing nduweni garis keturunan dina kelairan Setu Wage.

Pantangan Liyane

Selain tidak boleh sembarang mengucap, pantangan lain yang harus dipatuhi yaitu pendaki tidak boleh berbuat mesum dan tidak boleh memegang lutut. Pantangan kedua mungkin dianggap wajar karena bukan hanya di gunung Slamet, di tempat manapun yang dianggap keramat, orang yang datang tidak boleh berbuat mesum. Namun pantangan yang terakhir ini agak tidak masuk akal. Namun itulah kenyataannya. Pendaki yang memegang lutut ketika naik, bisa dipastikan tidak akan sampai ke puncak.

Dina Pantangan

kejaba kuwe,ana dina-dina tertentu sing ora olih dinggo ndaki. maksude, nang dina-dina kuwe pendaki ora olih babar blas munggah gunung Slamet. aja maning pendaki, juru kunci bae ora wani munggah nang dina-dina larangan. Dina-dinane yakuwe:'Minggu Legi, Slasa Legi, Setu Paing, Minggu Paing. kejaba dina kuwe, juru kunci pasti seneng banget nganter pendaki.

Sing ndadekna beda Gunung Slamet kuwe bahwa pendaki sebenere kudu ngagawa kembang lan kemenyan. Maksude kanggo sesajen marang sing mbaureksa gunung Slamet. Sebenere Gunung Slamet dudu kanggo refresing atawa nyalurna hobby tok. Nanging luwih saka kuwe gunung Slamet sebenare kaya panggonan sing kanggo wong memohon supaya kekarepane dikabulna. Hal kuwe dibuktekna anane syukuran warga masyarakat sekitar saben tanggal siji sura(1 Muharam). Syukuran kuwe awujud tumpeng kendit, diarani ngono soale tumpeng kuwe digawe saka beras abang sing tujukna kanggo para leluhur nang Gunung Slamet.

Ana pengalaman sing dialami kancaku saka brebes ( wis limasan tahun kepungkur ). Critane rombongan mahasiswa pencinta alam saka Semarang lagi ngadakna pendakian maring Gunung Slamet, salah sijine kuwe ya kancaku sing asal brebes. Nang perjalanan balik saka pendakian embuh priben critane ana kanca siji sing kesingsal. diluruh tekan saiki durung ketemu. Saat kuwe dicritani karo wong pinter jarene kancaku nemuni dalan liya sing dikira dalan bener jebule dalan sing nuju maring alam liya. Mergane jare wong pinter kuwe kancaku ngglanggar salah sijine larangan sing kudu dihindari. Wallahualam.......

TSS vol 2 sub indo